Sebagai generasi muslim seyogyanya kita mencintai Alquran. Dalam berbagai riwayat kita bisa mendapati pelajaran supaya kita mencintai Alquran. Seperti balasan pahala bagi pembacanya, kehadiran Alquran sebagai hujjah di hari Pembalasan, mendapatkan ketenangan hati, dan lain sebagainya. Semua itu tentu menjadi motifasi kita untuk senantiasa berpegangteguh pada Alquran.

Membaca Alquran merupakan ibadah yang sangat mulia. Oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar an-Nawawiyah disebutkan bahwa membaca Alquran adalah zikir yang sangat afdol dan mentadaburinya ketika membaca Alquran. Terkait hal ini, Imam Nawawi membahas lebih khusus dalam Bab Tilawah Alquran. Terdapat beberapa pembahasan yang menjadi perhatian kita. Dengan dimikian, tumbuh keikhlasan dan kecintaan dalam membaca dan mentadaburi Alquran.

Pertama, istiqomah membaca Alquran

Istiqomah dalam menjalankan ibadah memang berat tetapi selalu berbuah manis. Begitu juga dalam membaca Alquran, seyogyanya kita istiqomah. Sebab kita akan memetik buah manisnya kelak. Oleh karena itu tidak ada salahnya untuk menempa diri dan menyisihkan waktu membaca Alquran meskipun hanya sekali dalam sehari, baik pada siang maupun malam hari, baik dalam perjalanan maupun tidak.

Kita dapat meneladani pada ulama terdahulu. Bebagai riwayat menyebutkan bahwa para ulama memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam keistiqomahan mereka membaca Alquran. Di antara mereka ada yang mengkhatamkan Alquran satu kali dalam dua bulan. Ada pula yang mengkhatamkan Alquran sekali dalam sepuluh hari. Bahkan ada yang dalam delapan, tujuh, enam, atau lima hari mampu mengkhatamkan Alquran. Bahkan Imam Nawawi menyebutkan bahwa as-Sayyid al-Jalil ibnu al-Katib ash-Shufi mengkhatamkan Alquran empat kali pada siang hari dan empat kali pada malam hari. Pada riwayat lain Ibnu Abi Dawud menyebutkan bahwa pada bulan Ramadan Mujahid ra. mengkhatamkan Alquran antara waktu Maghrib dan Isya. Akan tetapi yang paling banyak di antara mereka adalah mengkhatamkan Alquran sekali dalam satu pekan.

Adapun mengenai waktu memulai dan mengkhatamkan Alquran hal tersebut dipersilahkan kepada pembacanya. Bagi yang memiliki kebiasaan mengkhatamkan Alquran sekali dalam satu pekan sebaiknya dimulai pada hari Jumat dan mengkhatamkannya pada hari Kamis. Dan para ulama terdahulu menyukai mengkhatamkan Alquran pada waktu subuh atau maghrib sebab barangsiapa menghkhatamkan Alquran pada awal malam maka para malaikat akan mendoakannya sampai subuh; dan barangsiapa menghkhatamkan Alquran pada awal siang maka para malaikat akan mendoakannya sampai sore.

Kedua, Waktu Membaca Alquran

Sebaik-baik membaca Alquran adalah ketika dalam salat. Imam Syafi’i menyebutkan bahwa memanjangkan bacaan Alquran pada saat salat lebih baik dari pada memperlama waktu sujud atau lainnya. Malam hari adalah waktu yang paling baik untuk membaca Alquran. Tentu saja, membaca Alquran di sepertiga malam terakhir lebih baik dari pada lainnya. Meskipun banyak waktu yang utama untuk membaca Alquran bukan berarti ada waktu yang dimakruhkan. Tidak sama sekali.

Ketiga, membaca doa ketika mengkhatamkan Alquran

Sebuah riwayat dari Hamid al-A’roj dalam kitab Musnad ad-Daromi menyebutkan bahwa barangsiapa mengkhatamkan Alquran lalu berdoa maka diaminkan oleh empat puluh ribu malaikat. Oleh karena itu, seyogyanya berdoa dengan khusyu’, memohon ampunan dan kebaikan dunia dan akhirat, memohon perihal taat dan taqwa.

Keempat, menjaga adab

Adab membaca Alquran mencakup banyak hal. Pada lain waktu barangkali kita bisa membahasnya, baik adab yang bersifat ruhani maupun bukan. Namun setidaknya dalam membaca Alquran kita mengawalinya dengan niat yang dan mengharap ridho Allah SWT. Selain itu, kita pun menjaga kemulyaan Alquran dengan mensucikan diri dari hadats kecil dan besar, mengupayakan menghadap kiblat, meletakkannya dalam posisi yang mulia. Tidak menyia-nyiakannya atau meletakkannya disembarang tempat.

Kontributor: M. Farhan Syakur, S.Hum
Pengampu mata pelajaran Bahasa Arab dan PPKN