Barangkali banyak di antara kita yang tidak begitu memperhatikan organ tubuh yang terletak di dada kita. Jantung. Kemungkinan besar penyebabnya adalah karena kita dianugerahi kesehatan sehingga jarang mencemaskan jantung kita. Padahal jantung adalah salah satu sistem organ tubuh yang sangat kompleks.

Jantung hanyalah organ berotot sebesar kepalan tangan kita. Dibagi menjadi dua, sisi kanan dan atas, yang masing-masing terdiri dari bagian atas (atrium) dan bagian bawah (ventrikel). Mereka bekerja, berdetup sekitar 70 kali permenit. Memompa darah ke sekujur tubuh dengan dalam waktu 23 detik dengan jarak perjalanan sekitar 96 ribu kilometer. Maka bisa dibayangkana apa yang yang akan terjadi ketika bagian tubuh kita terluka. Bersyukurlah karena Allah SWT juga menciptakan platelet, yaitu zat kimia yang akan aktif ketika terdapat jaringan darah yang rusak/terluka. Platelet akan membentuk sistem jaringan yang membuat sel darah merah terperangkap lalu membeku.

Tugas utama jantung adalah sebagai terminal pemberangkatan dan kedatangan sel darah merah (hemoglobin) yang mengangkut oksigen. Sel darah merah ini melakukan perjalanan yang sangat panjang dan sangat cepat ke seluruh tubuh. Apabila terjadi sesuatu pada sistem ini maka akibatnya pun sangat fatal. Misalnya serangan jantung. Mungkin juga stroke yang diakibatkan oleh penyumbatan pembuluh darah.

Bahasa Arab menggunakan kata qalb untuk menunjuk organ tubuh ini. Kata yang sama juga digunakan untuk menunjuk arti perasaan, atau juga bisa berarti jantung hati (pusat perasaan).

Kata qalb yang mengarah pada pengertian di atas pernah diungkapkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: اِنَّ الحَلَالَ بَيِّنٌ وَاِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا اُمُـوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَاسِ. فَمَنِ اتَّقَى الشُبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَاَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِيْ الشُبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ الحَرَامِ. كَالـرَاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ اَنْ يَـرْتَعَ فِيْهِ. اَلَا اِنَّ لِكُلِّ مَلَكٍ حِمًى، اَلَا اِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ. اَلَا اِنَّ فِيْ الجَسَدِ مُضْغَةً اِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ سَائرُ الجَسَدِ وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ. اَلَا وَهِيَ القَلْبُ. (رواه البخاري عن النعمان بن بشير)

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram pun jelas, dan di antara keduanya ada syubuhat (hal-hal yang samar), tidak diketahui oleh banyak orang. Maka siapa yang menghindari aneka kesamaan maka ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam syuhuhat maka ia (hampir saja) telah terjerumus ke dalam haram; seperti halnya penggembala yang mengembala di sekitar perbatasan, dia pun hampir larut dalam kenikmatannya. Sesungguhnya setiap raja mempunyai wilayah perbatasan. Sesungguhnya wilayah perbatasan Allah adalah larangan-larangan. Sesungguhnya dalam diri manusia ada sesuatu sebesar kunyahan. Apabila baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ia adalah kalbu.” ( HR Bukhari melalui Nu’man ibn Basyir).

Quraish Shihab menanggapi hadits tersebut bahwa kata qalbu tersebut kurang tepat apabila diartikan sebagai organ tubuh manusia (jantung/hati). Menurutnya lebih tepat apabila kata qalbu dalam hadits di atas diartikan sebagai kepekaan atau pusat rasa. Yakni sebagai software yang terinstal dalam sistem tubuh kita. Apabila seseorang kehilangan kepekaannya maka perilaku yang timbul adalah perilaku yang cenderung mengarah pada keburukan.

Kepekaan atau pusat rasa ini dekat sekali dengan malu (haya’). Seseorang yang memiliki kepekaan yang tinggi cenderung memiliki rasa malu yang besar. Kita bisa mengambil contoh begini: Seseorang yang memiliki kesadaran bahwa segala perilakunya diawasi dan dicatat oleh Allah SWT maka tentu saja ia merasa malu apabila melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran-Nya, meskipun sekedar membuang sampah sembarangan. Sebab, dalam kesadaran dan kepekaannya ia tahu bahwa membuang sampah sembarangan bukanlah perilaku yang terpuji.

Oleh karena itu, seseorang yang tidak memiliki kepekaan hati yang tinggi atau pusat rasanya kurang tajam maka ia cenderung tidak punya rasa malu. Akibatnya ia akn berperilaku sembrono dan bertindak sesuka hati.

Rasulullah Saw. bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: اِنَّ مِمَّا اَدْرَكَ النَاسُ مِنْ كَلَامِ النُبُوَّةِ الاُوْلَى: اِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. (رواه البخاري وأبو داود عن ابن مسعود)

“Sesungguhnya sebagian dari apa yang masih terekam oleh manusia dari ungkapan kenabian terdahulu adalah: ‘Bila Anda tak malu maka lakukanlah apa yang Anda inginkan.” ( HR Bukhari melalui Nu’man ibn Basyir).

Kepekaan hati yang tajam melahirkan budi pakerti yang luhur. Dengan hati yang peka itu akan terlahir rasa malu lantas ia akan hati-hati dalam bertindak. Selain itu, hati yang peka juga akan melahirkan rasa kasih dan sayang. Demikianlah, kepekaan akan mengantarkan seseorang pada kebaikan.

Kata qalb juga digunakan dalam Alquran sebagai gabungan dari daya pikir dan kesadaran moral. Ia adalah akal sehat manusia. Allah SWT. mengecam mereka yang tidak menggunakan hati dan kalbunya. Allah berfirman:

اَفَلَمْ يَسِيْرُوا فِي الاَرْضِ فَتَكْونُ لَهُمْ قُلُـوْبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا اَو ءَاذَانٌ يَسمَعُونَ بِهَا فَاِنَّهَا لَا تَعمَى الاَبْصَارُ وَلَكِن تَعمَى القُلُوبُ الَّتِي في الصُدُوْرِ. (الحَج: 46)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami atau mereka mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata (kepala) yang buta tetapi yang buta adalah hati yang berada di dalam dada.”

Ayat di atas hanya menyebut kata kalbu—dalam hal ini berarti akal sehat dan hati yang suci—dan telinga. Ia tidak menyebut mata karena yang diinginkan dari ayat ini adalah kebebasan berpikir jernih dan kemampuan mengasah kepekaan yang menemukan kebenaran, serta mengikuti keterangan orang terpercaya. Maka, mereka yang tidak menggunakan kalbu (akal sehat dan kepekaannya) dan telinganya maka ia dinilai buta hati.

Kalbu menjadi wadah sekaligus menjadi alat untuk meraih pengetahuan dan kebenaran. Orang yang wadahnya sempit maka akan mudah tersinggung lantas terhempas dari pengetahuan dan kebenaran. Sebab kalbu yang sempit tak ubahnya kolam yang airnya dipasok dari luar. Hati yang sempit hanya memiliki pengetahuan yang sedikit dan itupun bersumber dari luar. Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kolam tersebut apabila air yang mengalir ke dalamnya adalah air yang keruh.

Ada pula kalbu yang pengibaratannya seperti sumur. Ia tidak hanya menjadi wadah air tetapi jauh di dalam dasarnya terdapat sumber air. Hati yang jernih, sehat, dan peka akan menampung pengetahuan dan kebenaran yang luas. Tidak hanya menampung tetapi sekaligus menjadi sumbernya. Maka, untuk menjadikan kalbu sebagai sumur yang memiliki sumber air yang jernih dan bersih, hilangkanlah kedengkian, keangkuhan, dan aneka kedurhakaan yang ada di dalamnya. Sebab sifat-sifat buruk itu hanya akan memperkeruh suasana hati. Bukankah untuk memiliki sumur yang jernih harus digali dan dikeluarkan tanah dan bebatuannya?! Wallahua’lam.

Contributor: M. Farhan Syakur, S.Hum.
Referensi utama dalam tulisan ini dari “Dia di Mana-mana. Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena” karya Quraish Shihab.